Kamis, 25 November 2021

Peran Blog Dalam Media Pembelajaran Daring Sekolah Dasar

Pandemi Covid-19 mendorong digunakannya metode pembelajaran daring. Hal ini ditujukan untuk menurukan resiko penyebaran Covid-19 pada anak. Dikuatkan dengan pernyataan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Juni 2021. IDAI mengungkapkan angka kematian anak di Indonesia akibat Covid-19 menjadi yang tertinggi di dunia.

Kondisi ini bisa dilihat dari kacamata yang lebih luas sebagai sebuah momen titik balik sistem pembelajaran. Penulis Mark McCrindle mengungkapkan analisanya tentang generasi alfa. Sebutan ini merujuk pada anak-anak yang lahir di abad 21, tepatnya awal tahun 2000 hingga saat ini.

Generasi alfa diidentifikasi sangat bergantung pada teknologi. Meski begitu, generasi alfa diprediksi jadi generasi yang lebih terdidik. Hal ini disebabkan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pendidikan dan fasilitas yang sudah lebih baik.

Interaksi generasi alfa dengan perangkat teknologi harus jadi perhatian guru. Khususnya teknologi informasi seperti smartphone ataupun komputer.

Penulis McCrindle menjelaskan bahwa cara generasi alfa mengonsumsi konten cukup berbeda. Jika generasi sebelumnya menyaksikan acara dengan jadwal tertentu, tidak berlaku bagi generasi alfa. Mereka lebih memilih untuk mengatur kontennya sendiri. Jika mereka ingin suatu konten, maka mereka akan aktif mencari. Generasi alfa tidak terikat pada jadwal dari penyedia, mereka lebih suka memegang kendali pilihan kontennya. 

Tentunya guru perlu mencari alternatif untuk menyiasati kecenderungan tersebut. Guru perlu menilai ulang kegiatan belajar dengan jadwal ketat ataupun berbicara berjam-jam di depan kelas/kamera. Dibandingkan metode tersebut, guru bisa membiarkan anak mengeksplorasi informasinya sendiri. Karena metode tersebut adalah yang paling sesuai dengan generasi alfa.

Terhindar dari beban mengajar seluruh topik sendirian. Guru justru bisa hadir sebagai pendamping aktivitas belajar. Dengan memberi sumber konten utama dan kata kunci pada anak. Kemudian anak bisa mencari sumber pelengkap melalui perangkat digital masing-masing.

Dengan begitu pembelajaran bisa berjalan lebih dinamis. Tidak hanya untuk anak, bahkan guru juga bisa menemukan hal baru sekaligus menjadi sahabat belajar yang lebih diterima anak.

Di sisi lain, penalaran anak bisa tumbuh lebih baik dengan banyaknya referensi. Bahkan, terkadang referensi yang ditemukan anak sebenarnya cukup sulit jika harus disediakan guru sendirian.

Bagi guru, konten pembelajaran bisa dimuat dalam blog. Blog bekerja dengan cara yang sama seperti buku pelajaran. Bentuknya dapat berupa tulisan, suara, gambar, ataupun video. Proses pembuatannya pun cukup mudah, terutama jika sudah terbiasa dengan smartphone. 

Keuntungannya, materi dalam blog bersifat abadi. Jadi, guru cukup satu kali memasukkan konten untuk dipakai seumur hidup. Langkah ini menghemat banyak waktu dan tenaga. Dengan blog, guru tidak perlu menjelaskan ulang berjam-jam tiap sesi. Guru juga bisa menambahkan informasi baru dan detail sesuai kebutuhan.

Hal serupa diungkapkan Yesi Fitri Haryati dalam jurnal Pemanfaatan Bahan Ajar Berbasis Blog untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa yang didokumentasikan oleh LIPI pada 3 April 2011. Yesi berkesimpulan pemanfaatan blog sebagai bahan ajar bisa meningkatkan aktivitas belajar siswa.

Dukungan juga disampaikan Eka Sulistiyowati dalam jurnal yang dipublikasi Albidayah berjudul Peran Blog Sebagai Media Pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. Penulis mengungkapkan bahwa untuk seorang siswa SD/MI, blog melatih kemandirian dan kepercayaan diri. Blog juga menjadi ruang pencarian informasi untuk memahami konsep sains secara mandiri. 

Oleh: Topo Setyanto,S.Pd


Tags :

SDN 4 CIRAHAB

KI HAJAR DEWANTARA

  • " Ing ngarso sang Tulodo " ( Di depan memberi Contoh )
  • " Ing Madyo Mangun Karso " ( Di tengah Memberi Bimbingan )
  • " Tut Wuri Handayani " (Di belakang Memberi Dorongan )

  • : SD Negeri 4 Cirahab
  • : 13 Februari 1980
  • : Cirahab Rt03/04 Kec. Lumbir
  • : sdn4cirahab@gmail.com
  • : 087878789224

1 Reviews: