Kamis, 18 November 2021

Jalan Panjang taman siswa jalan panjang pendidikan indonesia

Tepat tanggal 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara (KHD) yang saat itu masih bernama Raden Mas Sowardi Soerjaningrat mendirikan National Onderwijs Institut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa).

Pendirian lembaga pendidikan dan kebudayaan ini dilakukan bersama-sama Nyi Sutartinah (isteri) dan kawan-kawan seperjuangannya, seperti Ki Soerjopoetro, Ki Soetatmo Soerjo Koesoemo dan Ki Pronowindigdo. Awalnya KHD

menyelenggarakan Taman Indria (TK) Kemudian berkembang menjadi Taman Muda (SD), Taman Dewasa (SMP), Taman Madya (SMA). Taman Karya Madya (SMK), Taman Guru (SPG), dan Sarjanawiyata (Universitas) Bahkan pernah mendirikan Taman Tani (nonformal)

Tahun 1932 ia melawan kebijakan OO (Onderwijs Ordonantie) yang pada dasarnya adalah kebijakan pemerintah untuk menindas sekolah swasta.

Ideologi Pendidikan

Oleh para ahli ideologi pendidikan KHD dapat dikategorikan ke dalam Fundamentalisme. Kenapa? Tak lain karena ia lebih menekankan tujuan pendidikan secara menyeluruh pada upaya membangkitkan dan menegaskan kembali cara-cara lama yang lebih baik dibandingkan yang paling mutakhir. Ciri-ciri umum ideologi fundamentalisme pendidikan adalah menempatkan pengetahuan sebagai sebuah alat untuk membangun kembali masyarakat

mengikuti pola keunggulan moral tertentu yang dahulu ada

Dalam ranah filsafat, fundamentalisme meyakini bahwa nilai itu bersifat mutlak. Benar salah, baik buruk, secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Menurutnya manusia mestinya berlaku jujur, adil, ikhlas, pemaaf. kasih saying pada sesama karena ini merupakan kebaikan universal Tokoh-tokohnya yang menonjol adalah Parmenides (540-475 SM). Plato (427-347 SM). dan Al-Ghazali (1059-1111)

Selain fundamentalisme. ideologi pendidikan KHD juga klop dengan rekonstruksionisme yang digawangi Harold Ruggs (1886-1960). George Silvester Count (1889-1974). dan Theodore Brameld (1904-1987) Mazhab ini meyakini bahwa tujuan pendidikan adalah membuat aturan sosial yang ideal dan merekonstruksi budaya pada masyarakat majemuk.

Di tangan KHD, tujuan sekolah adalah membangun kembali masyarakat dengan cara mendorongnya agar kembali ke tujuan mula-mula, menyalurkan informasi dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk berhasil dalam tatanan sosial yang ada. Karena itu lahir lebih dari sepuluh konsep tentang pendidikan nasional Indonesia, yaitu

Konsep Trikon (kontinuitas, konvergensitas dan konsentrisitas)

yang pada dasarnya memberi tempat budaya masyarakat lain yang majemuk ke dalam budaya masyarakat setempat sepanjang perpaduan antar budaya tersebut bersifat akulturatif dan saling mengisi.

Konsep Trihayu (memayu hayuning salira, bangsa, manungsa-bawana) menyatakan bahwa pendidikan hendaknya dapat bermanfaat bagi diri sendiri, bangsa dan masyarakat dunia.

Konsep Keseimbangan, yaitu secara seimbang dapat mengembangkan kecerdasan (intellectuality) dan kepribadian (personality). Kecerdasan tanpa diimbangi kepribadian membuat peserta didik pintar namun buruk. Sebaliknya, kepribadian tanpa diimbangi kecerdasan membuat peserta didik baik tetapi bodoh.

Konsep Dasar dan Ajar, menyatakan bahwa perkembangan jiwa peserta didik tergantung pada dua aspek sekaligus: Dasar (pemberian Tuhan YME) dan Ajar (pendidikan dan pelatihan bagi peserta didik). Apabila peserta didik memiliki dasar dan ajar yang positif maka perkembangan jiwanya akan positif, demikian pula sebaliknya.

Konsep Trisentra Pendidikan, terdiri dari keluarga, perguruan dan pergerakan, menyatakan bahwa keberhasilan pendidikan sangat ditentukan tiga aspek sekaligus: keluarga, perguruan dan masyarakat. Pendidikan bagi peserta didik akan berhasil manakala pendidikan keluarga, perguruan atau sekolah, dan lingkungan masyarakatnya baik, demikian pula sebaliknya,

Konsep Kebangsaan

menyatakan, pendidikan harus mampu mengantarkan peserta didik memiliki jiwa dan semangat kebangsaan yang memadai, mendudukkan bangsa Indonesia di atas segala, tidak boleh menonjolkan status sosialnya, ekonomi, agama, etnis, suku dan golongannya sendiri.

Konsep Kekeluargaan menyatakan, pendidikan sebaiknya dilakukan dalam suasana kekeluargaan sebagaimana hubungan yang terjadi dalam keluarga, antara orang tua, anak dan saudara-saudaranya.

Konsep Among menyatakan, mendidik anak harus dilandasi rasa ikhlas untuk mengasuh dan membimbing sebagaimana yang terjadi dengan seorang pangemong dengan anak yang diasuh dan dibimbingnya sehingga tidak sebatas pada pertemuan jam-jam efektif di kelas atau sekolah, namun dilaksanakan penuh 24 jam.

Konsep Tut Wuri Handayani, hendaknya member kesempatan pada peserta didik untuk mengembangkan dirinya sendiri. Manakala dalamperjalannya ada hal yang keluar dari rel pendidikan maka pendidik wajib member bimbingan dan arahan. Tentu pada anak-anak porsi handayani lebih dominan. Sementara pada usia dewasa, tut wuri yang lebih dominan.

Konsep Tringa (ngerti, ngrasa. nglakoni). Untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran maka peserta didik perlu menguasai pengetahuan yang sedang dipelajari (ngerti), mengambil sikap positif terhadap sesuatu yang dipelajari (ngrasa) dan mempraktikkan apa yang dipelajari (nglakoni).

Konsep Tri Sakti Jiwa (cipta, rasa, karsa) menyatakan, untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran, kepada peserta didik haruslah dikembangkan daya cipta atau kreativitasnya, daya pemahaman dan perasaannya, dan juga dibangun motivasinya untuk mempelajarisesuatu.

Konsep Trina (niteni, nirokke, nambahi) menyatakan, untuk mempelajari segala sesuatu bisa ditempuh dengan cara mengenali dan mengingat sesuatu yang dipelajari (niteni), menirukan sesuatu yang dipelajari (nirokke), dan mengembangkan sesuatu yang dipelajari (nambahi).

Konsep Tripantangan (harta. tahta, wanita) menyatakan seorang pendidik dilarang keras berburu harta secara tidak jujur. semisal korupsi; berburu kekuasaan dan atau kedudukan secara tidak wajar, semisal membeli jabatan dan berselingkuh

Konsep pendidikan KHD sungguh sangat komprehensif, khas, dan dinamis. la tidak saja mengambang di permukaan, namun menukik sampai di dasar, karena tidak lahir dari hal-hal yang bersifat artifisial belaka namun berasal dari cakrawala yang luas tapi tetap dibumikan la adalah tonggak, namun selalu cair dan kontemporer. Tidak hanya tegak sebagai tugu yang tegak dan beku.

Kematangan konsepnya adalah wujud kepiawaiannya sebagai intelektual nasionalis yang tidak saja mumpuni di jagad pendidikan, namun juga piawai di dunia jurnalistik. politik, dan kebudayaan. (SB)

Sumber: DerapGuru No. 208 Th XVll-Mei 2017

Tags :

SDN 4 CIRAHAB

KI HAJAR DEWANTARA

  • " Ing ngarso sang Tulodo " ( Di depan memberi Contoh )
  • " Ing Madyo Mangun Karso " ( Di tengah Memberi Bimbingan )
  • " Tut Wuri Handayani " (Di belakang Memberi Dorongan )

  • : SD Negeri 4 Cirahab
  • : 13 Februari 1980
  • : Cirahab Rt03/04 Kec. Lumbir
  • : sdn4cirahab@gmail.com
  • : 087878789224

Posting Komentar