Kamis, 18 November 2021

BERGANDENG TANGAN UNTUK ANAK-ANAK KORBAN PANDEMI

Covid-19 menyisakan duka mendalam bagi banyak anak. Penyakit yang ditimbulkan virus jenis baru ini merenggut nyawa lebih dari 143.000 orang. Dari jumlah tersebut, 49,7% di antaranya berusia 31-59 tahun. Mereka ini umumnya para orang tua yang masih memiliki anak usia balita hingga remaja. Kematian mereka mengakibatkan sekitar 40.000 anak menjadi yatim, piatu, atau pun yatim piatu

Anak-anak yang kehilangan ayah atau ibunya atau bahkan kedua-duanya itu tentu mengalami persoalan dalam hal pemenuhan kebutuhan hidupnya. Ketua Forum Zakat, Bambang Suherman, mengungkapkan sebagian besar korban meninggal akibat Covid-19 berasal dari keluarga kurang mampu. Ketika orang tua yang semula menjadi tulang punggung hidup keluarga meninggal, pemenuhan kebutuhan fisik anak-anak yang ditinggalkan tentu mengalami masalah. Apalagi jika keluarga besar tidak mampu memberikan bantuan, bahkan untuk kebutuhan paling mendasar yaitu pangan,Pada kondisi ini penelantaran sangat mungkin terjadi. Tumbuh sebagai anak yang kekurangan gizi terang terbayang. Pada akhirnya mereka akan tumbuh sebagai manusia dewasa yang lemah daya tahannya dan rendah pula kemampuan berpikirnya. Kondisi ini tentu berbahaya bagi hidupnya di masa depan.

Kehilangan orang tua bisa menimbulkan kegoncangan jiwa yang luar biasa bagi anak-anak, khususnya yang terbiasa dibantu dalam banyak hal oleh ayah atau ibunya. Mereka tidak dipersiapkan sejak dini untuk mandiri. Krisis kepercayaan diri akan mereka alami. Ini tentu akan sangat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan, Semangat untuk belajar dan mengembangkan kemampuannya bisa jadi lenyap akibat kesedihan mendalam, Masa depan menjadi bayangan kelam lantaran tiada sedikit pun cercah harapan.

Mengingat jumlahnya yang mencapai puluhan ribu orang, pembiaran terhadap nasib anak-anak yang kehilangan orang tua akibat pandemi Covid bisa

berdampak luas bagi negara. Tanpa uluran tangan orang lain, mereka bisa terperosok pada lingkaran kekerasan dan narkoba. Jika itu terjadi, tidak mudah untuk mengentaskannya dan akan menjadi beban penghambat kemajuan negara.

Karena banyaknya jumlah mereka itu pula, emberian bantuan oleh pemerintah adalah sebuah keharusan. Namun membebankan penanganan hanya kepada pemerintah tentu bukan pemikiran yang bijak. Semua pihak harus terlibat. Masyarakat dapat menggalang dana untuk memenuhi kehidupan fisik dan kebutuhan hidup lainnya.

Organisasi profesi sangat mungkin pula untuk terlibat. Para psikolog, misalnya, dapat berkontribusi dalam pemberian layanan pendampingan kejiwaan agar anak-anak yang kehilangan orang tuanya itu tak putus harapan, berani menatap masa

depan, dan meyakini bahwa mereka mampu menghadapi tantangan. Para guru dapat memberikan layanan belajar di luar jam sekolah.

KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) bisa menjadi koodinator kegiatan pemberian bantuan dan pendampingan. Untuk keperluan ini tentu KPAI bisa merekrut banyak relawan karena bisa jadi pendampingan akan memakan waktu yang lama akibat beratnya masalah.

Kita semua patut berharap pemerintah untuk tidak lalai mengurusi persoalan ini. UUD 1945 dan UU Perlindungan Anak telah mengamanatkan bahwa negara menjamin pemenuhan hak hidup dan hak tumbuh kembang anak-anak terlantar. (TW)

Sumber: DerapGuru

Tags :

SDN 4 CIRAHAB

KI HAJAR DEWANTARA

  • " Ing ngarso sang Tulodo " ( Di depan memberi Contoh )
  • " Ing Madyo Mangun Karso " ( Di tengah Memberi Bimbingan )
  • " Tut Wuri Handayani " (Di belakang Memberi Dorongan )

  • : SD Negeri 4 Cirahab
  • : 13 Februari 1980
  • : Cirahab Rt03/04 Kec. Lumbir
  • : sdn4cirahab@gmail.com
  • : 087878789224

Posting Komentar